<?xml version="1.0" encoding="utf-8" standalone="yes"?><rss version="2.0" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"><channel><title>Etika Sains on Isu Keamanan Transportasi Global</title><link>https://isukeamanan.com/categories/etika-sains/</link><description>Recent content in Etika Sains on Isu Keamanan Transportasi Global</description><generator>Hugo</generator><language>id-ID</language><lastBuildDate>Sat, 10 Jan 2026 11:00:00 +0700</lastBuildDate><atom:link href="https://isukeamanan.com/categories/etika-sains/index.xml" rel="self" type="application/rss+xml"/><item><title>Etika Organoid: Menggunakan 'Organ Mini' untuk Simulasi Penyakit Langka</title><link>https://isukeamanan.com/posts/medical-organoids/</link><pubDate>Sat, 10 Jan 2026 11:00:00 +0700</pubDate><guid>https://isukeamanan.com/posts/medical-organoids/</guid><description>&lt;p&gt;Pada awal 2026, teknologi organoid telah merevolusi cara ilmuwan mempelajari patofisiologi penyakit langka. Organoid adalah struktur seluler tiga dimensi yang ditumbuhkan dari sel punca pasien, yang mampu meniru arsitektur dan fungsi organ asli dalam skala mikro. Karena memiliki profil genetik yang identik dengan pasien, &amp;ldquo;organ mini&amp;rdquo; ini memungkinkan pengujian obat yang dipersonalisasi tanpa risiko langsung pada manusia. Namun, kemampuan teknologi ini untuk menciptakan model yang semakin menyerupai organ manusia sesungguhnya, termasuk jaringan otak (brain organoids), memicu perdebatan bioetika yang mendalam mengenai batas-batas manipulasi biologis.&lt;/p&gt;</description></item></channel></rss>